CHIANG MAI - Maraknya berbagai ujaran kebencian dan radikalisme yang didasarkan pada agama, etnisitas dan identitas kelompok menjadi keprihatinan negara-negara ASEAN. Mereka sepakat untuk memberikan perhatian dan mencarikan solusi bersama.

Ketua ASEAN SOMY (Senior Official Meeting on Youth), Asrorun Niam Sholeh menjelaskan masyarakat ASEAN memiliki komitmen untuk mempromosikan budaya yang mendorong moderasi. Di samping masalah radikalisme, masalah yang disoroti adalah tentang cyber bullying yang sudah pada taraf membahayakan kohesi sosial. Juga tentang masalah narkotika dan zat adiktif yang membahayakan generasi muda.

"Salah satu solusi yang disepakati adalah mempromosikan nilai moderasi dan membangun literasi di berbagai bidang dan aspek kehidupan sosial kemasyarakatan, serta mencegah merajalelanya hoaks, perundungan berbasis siber (cyber bullying), dan radikalisme. Di samping langkah pencegahan, forum juga menyampaikan perlunya mengambil langkah penindakan," tegas Deputi kepemudaan Kemenpora ini dalam pernyataan tertulisnya, Sabtu (19/5/2019).

Forum tersebut juga menilai pentingnya fokus kampanye mempromosikan literasi media untuk memerangi fakenews. Untuk membangun harmoni dan moderasi di kalangan kaum muda, Indonesia menyampaikan akan melaksanakan pertemuan pemuda antar agama melalui Asean Interfaith Youth Camp. 

"Kemenpora siap memimpin kegiatan dialog pemuda antaragama untuk meningkatkan kesepahaman dan menimalkan kecurigaaan serta ketegangan karena perbedaan agama. Insya Allah dilaksanakan di Mataram Juni mendatang," ucap Niam.